EXTREME PRODUCTIVITY

Secara umum, produktivitas diartikan sebagai hubungan antara
hasil nyata maupun fisik dengan masukan yang sebenarnya (ILO,
1979). Greenberg yang dikutip oleh Sinungan (1985) mengartikan
produktivitas sebagai perbandingan antara totalitas pengeluaran pada
waktu tertentu dibagi totalitas masukan selama periode tersebut.
Bermula dari satu hal, satu orang ke orang lainnya lambat laun
sebuah infomasi terus bertambah kontennya. Informasi tersebut
akhirnya berubah menjadi gosip. Gosip di kantor merupakan hal yang
tidak bisa dipastikan kebenarannya. Seringkali hal tersebut justru
dimulai dari rasa iri hati, frustrasi, kurang percaya diri, bahkan yang
terburuk adalah candaan semata. Itu tentu saja berdampak sangat
buruk. Tidak hanya bagi orang yang menjadi bahas pembicaraan,
namun juga bagi pembicara.


Jika diibaratkan dengan sepasang kayu dan paku. Paku sebagai
rumor buruk yang Anda bicarakan dan kayu sebagai orang yang
dibicarakan. Anda memukulkan paku tersebut kepada kayu hingga
menyakitinya. Bahkan meskipun Anda telah mencabut paku tersebut,
lubang tersebut masih saja tersisa. Seperti inilah luka yang
diakibatkan oleh rumor buruk yang Anda perbuat terhadap
seseorang.Pentingnya produktivitas kerja mencakup banyak hal,
dimulai dari produktivitas tenaga kerja, produktivitas organisasi,
produktivitas modal, produktivitas pemasaran, produktivitas produksi,
produktivitas keuangan dan produktivitas produk.


Pada tahap awal revolusi industri di negara-negara Eropa,
perhatian lebih banyak tertuju pada bidang produktivitas tenaga kerja,
produktivitas produksi dan produktivitas pemasaran. Sedangkan di
negara Jepang, perhatian peningkatan produktivitas tertuju pada
produktivitas tenaga kerja dan produktivitas organisasi, sehingga
keharmonisan kepentingan buruh dan majikan dipelihara dengan baik.
Kata-kata produktivitas memang telah menggema di Indonesia dalam
beberapa tahun belakangan ini, walaupun kegiatan untuk

meningkatkan produktivitas baik tenaga, modal, tanah maupun
sumber-sumber alam lainnya yang tersebar luas di tanah air kita, telah
berlangsung lama.


Sumber daya manusia modal dan teknologi menempati posisi
yang amat strategis dalam mewujudkan tersedianya barang dan jasa.
Penggunaan sumber daya manusia, modal dan teknologi secara
ekstensif telah banyak ditinggalkan orang.


Peningkatan produktivitas perlu dilakukan pada seluruh sektor
mulai dari peningkatan produktivitas masyarakat, pemerintah hingga
sektor swasta. Peningkatan produktivitas pada sektor swasta berarti
meningkatkan produktivitas perusahaan. Hasil peningkatan
produktivitas perusahaan terbukti telah memberikan manfaat kepada
seluruh pemangku kepentingan mulai dari para pekerja perusahaan itu
sendiri sampai dengan konsumen. Peningkatan produktivitas
perusahaan juga memberikan manfaat besar kepada pemerintah dalam
hal peningkatan dayasaing dan perluasan kesempatan kerja yang
sangat dibutuhkan seiring dangan berkembangnya tuntutan pasar
kerja.

Pengukuran produktivitas merupakan suatu alat manajemen
yang penting disemua tingkatan ekonomi. Dibeberapa Negara
maupun perusahaan pada akhir-akhir ini telah terjadi kenaikan minat
pada pengukuran produktivitas. Karena itu sudah saatnya kita
membicarakan alasan mengapa kita harus mengukur produktivitas.
Ada dua macam alat pengukuran produktivitas, yaitu :


· Physical productivity, yaitu produktivitas secara kuantitatif
seperti ukuran (size),panjang, berat, banyaknya unit, waktu, dan biaya
tenaga kerja.


· Value productivity, yaitu ukuran produktivitas dengan
menggunakan nilai uang yang dinyatakan dalam rupiah, yen, dollar
dan seterusnya.


Filosofi produktif adalah mengidentifikasi dan menghilangkan
pemborosan (waste) atau aktivitas-aktivitas yang tidak bernilai
tambah (non-value-added activities) melalui peningkatan terus

menerus secara radikal (radical continuous improvement). Untuk
mencapai tingkat kinerja enam sigma, akan menciptakan Budaya
disiplin, Metrics dan dashboard, business Tools dan Standarisasi.


Seorang pemimpin di dalam melaksanakan kepemimpinan
haruslah memiliki kriteria-kriteria yang diharapkan, dalam arti
seorang pemimpin harus memiliki kriteria yang lebih dari pada
bawahannya misalnya jujur, adil, bertanggung jawab, loyal, energik,
dan beberapa kriteria-kriteria lainnya. Kepemimpinan merupakan
sebuah hubungan yang kompleks, oleh karena berhadapan dengan
kondisi-kondisi ekonomi, nilai-nilai sosial dan pertimbangan politis.


Ciri – ciri pegawai yang produktif sebagai berikut;


· Lebih dari memenuhi kualifikasi pekerjaan; kualifikasi
pekerjaan dianggap hal yang mendasar, karena produktivitas tinggi
tidak mungkin tanpa kualifikasi yang benar.


· Bermotivasi tinggi; motivasi sebagai faktor kritis, pegawai
yang bermotivasi berada pada jalan produktivitas tinggi.


· Mempunyai orientasi pekerjaan positif; sikap seseorang
terhadap tugasnya sangat mempengaruhi kinerjanya, faktor positif
dikatakan sebagai faktor utama produktivitas pegawai.
· Dewasa; pegawai yang dewasa memperlihatkan kinerja yang
konsisten dan hanya memerlukan pengawasan minimal.
· Dapat bergaul dengan efektif; kemampuan untuk menetapkan
hubungan antar pribadi yang positif adalah aset yang sangat
meningkatkan produktivitas.