RABBIT vs WOLF Culture

RABBIT CULTURE VS WOLF CULTURE

Di Indonesia belakangan ini cepat sekali mengalami perubahan, misalnya saja perubahan dalam bidang sumber daya manusia. Perubahan ini terjadi karena adanya macam-macam generasi yang sudah mulai mendominasi di berbagai korporasi. Hal ini membuat para pemimpin juga ikut campur dalam menangani sumber daya manusia. Di dalam korporasi banyak pemimpin yang bingung mengatasi perilaku para karyawan. Banyak pemimpin yang tidak
mengetahui bagaimana sikap dan perilaku karyawan mereka. Namun tidak sedikit pula pemimpin yang mengetahui kebiasaan- kebiasaan karyawan di kantor atau di dalam organisasi yang jika dibiarkan akan merugikan organisasi dan menjadi penghambat untuk kemajuan usaha Anda. Semua organisasi harus berubah karena adanya tekanan di dalam lingkungan internal maupun eksternal. Walaupun perubahan yang terjadi lebih pada lingkungan, namun pada umumnya menuntut perubahan lebih pada organisasional, dan organisasi-organisasi bisa melakukan lebih banyak perubahan ataupun lebih sedikit. Organisasi-organisasi bisa merubah tujuan dan strategi-strategi, teknologi, desain pekerjaan, struktur, proses-proses, dan orang.

Perubahan-perubahan pada orang senantiasa mendampingi perubahan-perubahan pada faktor-faktor yang lain. Proses perubahan pada umumnya mencakup sikap dan perilaku saat ini yang unfreezing, perubahan-perubahannya dan akhirnya kepemilikan sikap dan perilaku yang baru yang refreezing. Culture kerja para karyawan adalah bagian dari organisasi Anda yang tidak bisa dipisahkan, merupakan cerminan nilai-nilai sebuah organisasi dan dapat membawa dampak positive bagi karyawannya itu sendiri. Faktanya Banyak organisasi atau instansi
yang memiliki culture yang kurang bagus dan berpengaruh negatif bagi organisasi mereka. Karyawan yang tidak memiliki insiatif, miskin kreatifitas, bekerja santai yang penting pekerjaan selesai serta karyawan yang hanya melakukan hal-hal yang sama setiap harinya serta tidak diimbangi dengan semangat kerja yang tinggi.

Jack Ma adalah orang terkaya di asia, memberi saran ke sebuah perusahaan game terbesar di China. Untuk menghilangkan semua karyawan mereka yang memiliki Rabbit Culture karena hanya akan merugikan perusahaan. Selain itu Jack Ma menyarankan agar diperusahaan tersebut memiliki karyawan dengan semangat Wolf culture.

Apa yang dimaksud dengan Rabbit Culture & Wolf Culture menurut Jack Ma? Rabbit Culture adalah dimana sebuah
perusaahaan yang memiliki kulture yang santai, hanya ingin berada di zona nyaman, tidak berkembang dan tidak menyukai tantangan. Biasanya pada perusahaan yang memilik culture ini perusaahannya tidak akan berkembang dan akan seperti itu saja perkembangannya , karena dalam culture ini pemimpin dan karyawannya sudah dalam
zona nyaman. Zona nyaman yang dimaksud adalah contoh sebuah organisasi yang tidak berani mengambil
keputusan untuk memanjukan instansi tersebut. Dan mengenai karyawan biasanya mereka lebih menganggap organisasi tempat mereka bekerja seperti tempat bermain yang tidak ada keseriusan bekerja dan hanya main-main saja. Jika kita lihat secara keseluruhan itu bukanlah sepenuhnya kesalahan karyawan, tetapi itu juga termasuk
kesalahan organisasi, Kenapa ? Karena tidak sedikit dari sebuah organisasi yang tidak pernah berani untuk
mengambil sikap tegas untuk karyawannya.

Berbeda dengan Wolf Culture dengan Spirit Wolf yang menyukai tantangan, suka berburu dan ingin berkembang. Dalam penjelasaan mengenai Wolf Culture ini dimana pimpinan harus memikirkan bagaimana caranya untuk membuat organisasi yang mereka pimpin semakin maju dan berkembang. Di Indonesia banyak organisasi atau instansi yang telah memiliki sistem yang nyaris sempurna. Persoalan muncul karena sistem yang sudah mapan
itu tak dijalankan sepenuhnya oleh para karyawan. Pebisnis tidak fokus terhadap element people, dan unsur manusianya, Sehingga tidak ada pengembangan sumber daya. Untuk sebuah organisasi dengan sistem yang baik, Wolf culture cocok diterapkan. Wolf culture membuat sistem yang mereka gunakan bisa bekerja. Yang harus dilakukan oleh para pemimpin bisnis leader adalah berbarengan mengajak para karyawan untuk terus menerapkan
wolf culture. 3 Cara menciptakan Wolf Culture:

1. Membangun Positive state, kondisi positif. Menekan stres dan menggenjot motivasi.

2. Bersama-bersama menciptakan kebiasaan baru yang positif.

3. Menciptakan belief antara organisasi atau instansi & karyawan.

Wolf culture merupakan cara yang sangat efektif untuk kemajuan organisasi Anda dan bisa diterapkan disemua
industri. Wolf Culture menjadikan karyawan Anda untuk terus memiliki semangat wolf dan tidak takut akan tantangan yang sedang dihadapi baik di dunia kerja maupun di dunia bisnis. Seorang Jack Ma saja menyarankan
menerapkan wolf culture. Karena Wolf Culture dapat memajukan sebuah organisasi / instansi. Untuk itu jika ingin organisasi Anda terus maju dan berkembang terapkanlah Wolf culture untuk kemajuan organisasi Anda. Jadi, Bagi Anda para pemimpin bisnis leader terapkanlah wolf culture pada organisasi Anda dan basmi rabbit culture untuk kemajuan organisasi Anda.